Assalamualaikum.
Halo
para pengunjung dimanapun anda berada. Postingan saya kali ini akan membahas
tentang kegalauan pelajar kelas 12 SMA untuk melanjutkan pendidikannya.
Kemana
kita akan pergi setelah lulus SMA? Pasti banyak pilihan. Salah satunya adalah
kuliah. Banyaknya lulusan sarjana yang menganggur menjadi ketakutan tersendiri
bagi para calon lulusan SMA. Mereka takut jikalau jurusan yang mereka pilih
nanti tidak menyediakan prospek kerja yang bagus, lantas mereka menjadi
“terlunta-lunta” setelah lulus kuliah. Selain itu, persaingan kerja yang begitu
ketat memaksa kita “selektif” dalam menentujan jurusan yang akan kita pilih
nanti. Itulah sekelumit fenomena yang terjadi ketika akan lulus SMA.
Sebenarnya,
apasih yang menjadi dasar seseorang menentukan pilihan jurusan kuliahnya?
Pertama, tentu saja prospek kerja. Sangat manusiawi jika hal yang dipikirkan
pertama kali adalah prospek kerja. Karena pekerjaan seseorang dapat mentukan
kesejahteraannya secara umum. Hal lain yang menjadi pertimbangannya adalah passion. Yaitu kesukaan atau kecintaan
kita terhadap suatu bidang. Hal ini tentu saja memunculkan kegalauan tersendiri
jika apa yang telah menjadi passion kita “dianggap” kurang menguntungkan, atau
kurang memiliki prospek kerja yang baik.
Realistis
memang jika prospek kerja menjadi pertimbangan nomor satu. Karena output dari
apa yang telah kita p[elajari selama ini bermuara disana. Namun hal itu
memunculkan suatu kecenderungan baru yaitu materialisme. Secara tidak sadar,
banyak orang yang terjebak di dalam sini. Mereka mendengungkan kata “realistis”
dalam [menentukan suatu jurusan kuliah karena memandang dari pekerjaan yang
mereka impikan. Lantas, salahkah jika hal seperti ini dinamakan sekolah untuk
bekerja?
CHICA HERMOSA a.k.a N.A. Aisya
- 18.46
- 0 Comments