Siapa yang gak tau Gang-Nam Style? Yah, walaupun cuman ‘pernah dengaer’
aja, pasti semua sudah tau dari mana asal Gang-Nam Style itu. Korea Selatan (again). Yaps, setelah berhasil meng-influence banyak orang di seluruh
penjuru dunia dengan Korean Wave-nya
beberapa tahun lalu, Korea Selatan tidak berhenti untuk menggencarkan ‘Demam
Korea’ hingga saat ini.
Industri hiburan yang sangat maju dan berkembang pesat, dimulai kurang lebih
pada awal 2000-an. Saat itu tayangan TV yang sering muncul adalah Drama Korea. Selama 1998 akibat runtuhnya keuangan, Korea
merupakan salah satu negara yang menghadapi krisis mengerikan. Namun, negeri
ini berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye Hallyu yang
artinya Gelombang Budaya Korea (Kim, 2008). Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantarkan Kor-Sel melewati krisis
dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka (The Economist, 2010).
Hingga saat ini, bisnis industri hiburan Korea
bertambah besar. Hal ini tidak terlepas dari etos kerja mereka. Etos kerja yang
didisiplinkan pemerintah berdasarkan ajaran Konfusius masih melekat pada
mereka. Konfusianisme didasarkan pada keyakinan bahwa orang perlu bekerja untuk
kebaikan kelompok dan bangsa. Ini mengimplikasikan pandangan bahwa kebutuhan,
ambisi, dan kekhawatiran pribadi menjadi kurang penting. Filsafat ini sangat
memengaruhi dan telah bekerja dengan baik dalam bisnis di Korea.
Etos kerja dan semangat kolektif yang dimiliki bangsa
Korea benar-benar menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara itu sejak
1960-an. Keduanya, menurut laporan Bank Dunia 2008, telah mengantarkan
pertumbuhan ekonomi yang spektakuler selama 40 tahun dan transformasi ekonomi
yang berhasil melambungkan status Korea sebagai negara dengan perekonomian
terbesar ke-15 dunia.
Dalam industri hiburan, tentu kita telah banyak
mengenal para artis Negeri Gingseng itu, contohnya Super Junior, PSY, SNSD. Drama
Korea yang legendaris antara lain Winter Sonata dan Full House.
Segala sesuatu pasti memiliki kekurangan dan
kelebihan. Begitu juga dengan negara yang telah saya ceritakan diatas. Namun,
bukankah kita sudah diberi akal pikiran untuk dapat membedakan mana yang baik
dan tidak?
So, boleh-boleh saja mengidolakan sesuatu, tapi
contohlah hal-hal baiknya saja. Oke.
Salam.
Nafalita
Ayunda Aisya a.k.a CHICA HERMOSA
- 18.15
- 0 Comments