IDEALIST Vs REALIS-MATEREALIS

18.46

Assalamualaikum.
          Halo para pengunjung dimanapun anda berada. Postingan saya kali ini akan membahas tentang kegalauan pelajar kelas 12 SMA untuk melanjutkan pendidikannya.
          Kemana kita akan pergi setelah lulus SMA? Pasti banyak pilihan. Salah satunya adalah kuliah. Banyaknya lulusan sarjana yang menganggur menjadi ketakutan tersendiri bagi para calon lulusan SMA. Mereka takut jikalau jurusan yang mereka pilih nanti tidak menyediakan prospek kerja yang bagus, lantas mereka menjadi “terlunta-lunta” setelah lulus kuliah. Selain itu, persaingan kerja yang begitu ketat memaksa kita “selektif” dalam menentujan jurusan yang akan kita pilih nanti. Itulah sekelumit fenomena yang terjadi ketika akan lulus SMA.
          Sebenarnya, apasih yang menjadi dasar seseorang menentukan pilihan jurusan kuliahnya? Pertama, tentu saja prospek kerja. Sangat manusiawi jika hal yang dipikirkan pertama kali adalah prospek kerja. Karena pekerjaan seseorang dapat mentukan kesejahteraannya secara umum. Hal lain yang menjadi pertimbangannya adalah passion. Yaitu kesukaan atau kecintaan kita terhadap suatu bidang. Hal ini tentu saja memunculkan kegalauan tersendiri jika apa yang telah menjadi passion kita “dianggap” kurang menguntungkan, atau kurang memiliki prospek kerja yang baik.
          Realistis memang jika prospek kerja menjadi pertimbangan nomor satu. Karena output dari apa yang telah kita p[elajari selama ini bermuara disana. Namun hal itu memunculkan suatu kecenderungan baru yaitu materialisme. Secara tidak sadar, banyak orang yang terjebak di dalam sini. Mereka mendengungkan kata “realistis” dalam [menentukan suatu jurusan kuliah karena memandang dari pekerjaan yang mereka impikan. Lantas, salahkah jika hal seperti ini dinamakan sekolah untuk bekerja?

CHICA HERMOSA a.k.a N.A. Aisya

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts