Me and Korea part 2 #Entertainment

18.15

Siapa yang gak tau Gang-Nam Style? Yah, walaupun cuman ‘pernah dengaer’ aja, pasti semua sudah tau dari mana asal Gang-Nam Style itu. Korea Selatan (again). Yaps, setelah berhasil meng-influence banyak orang di seluruh penjuru dunia dengan Korean Wave-nya beberapa tahun lalu, Korea Selatan tidak berhenti untuk menggencarkan ‘Demam Korea’ hingga saat ini.
Industri hiburan yang sangat maju dan berkembang pesat, dimulai kurang lebih pada awal 2000-an. Saat itu tayangan TV yang sering muncul adalah Drama Korea. Selama 1998 akibat runtuhnya keuangan, Korea merupakan salah satu negara yang menghadapi krisis mengerikan. Namun, negeri ini berhasil mengubah krisis menjadi kesempatan melalui kampanye Hallyu yang artinya Gelombang Budaya Korea (Kim, 2008). Hallyu sebagai alat soft power berhasil mengantarkan Kor-Sel melewati krisis dan bahkan meningkatkan status ekonomi mereka (The Economist, 2010).
Hingga saat ini, bisnis industri hiburan Korea bertambah besar. Hal ini tidak terlepas dari etos kerja mereka. Etos kerja yang didisiplinkan pemerintah berdasarkan ajaran Konfusius masih melekat pada mereka. Konfusianisme didasarkan pada keyakinan bahwa orang perlu bekerja untuk kebaikan kelompok dan bangsa. Ini mengimplikasikan pandangan bahwa kebutuhan, ambisi, dan kekhawatiran pribadi menjadi kurang penting. Filsafat ini sangat memengaruhi dan telah bekerja dengan baik dalam bisnis di Korea.
Etos kerja dan semangat kolektif yang dimiliki bangsa Korea benar-benar menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara itu sejak 1960-an. Keduanya, menurut laporan Bank Dunia 2008, telah mengantarkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler selama 40 tahun dan transformasi ekonomi yang berhasil melambungkan status Korea sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-15 dunia.
Dalam industri hiburan, tentu kita telah banyak mengenal para artis Negeri Gingseng itu, contohnya Super Junior, PSY, SNSD. Drama Korea yang legendaris antara lain Winter Sonata dan Full House.
Segala sesuatu pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan negara yang telah saya ceritakan diatas. Namun, bukankah kita sudah diberi akal pikiran untuk dapat membedakan mana yang baik dan tidak?
So, boleh-boleh saja mengidolakan sesuatu, tapi contohlah hal-hal baiknya saja. Oke.
Salam.
Nafalita Ayunda Aisya a.k.a CHICA HERMOSA



Sedikit mengutip dari : 

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts