Kenangan Abdi Desa : JIPURAPAH PUNYA CERITA #2

06.28




Sebelum berangkat, kita melaksanakan apel, yang dihadiri oleh wakil dekan 1. Beliau berpesan untuk tetap menjaga nama baik almamater selama ada di pengabdian. Oke, Siap Pak, kita hanya akan mengharumkan nama universitas.
Senin, jam 8 pagi. Sebagian besar panitia naik jisang, sisanya naik motor, karena memang motor sangat diperlukan untuk mobilisasi disana. Oiya, dalam misi pengabdian ini (?) kita akan melaksanakannya di 2 tempat, tapi masih dalam satu desa. Teman-teman menyebutnya dengan desa atas dan desa bawah. 3 hari pertama kita di desa bawah, dan 7 hari berikutnya kita di desa atas. Perjalanan lancar dari Surabaya hingga Jombang. Sampai di desa bawah, kita langsung menuju rumah singgah. Terdapat 2 rumah singgah yang kita “pinjam”. Karena laki-laki dan perempuan harus punya tempat tinggal terpisah. Yang dipakai cewek, kebetulan penghuninya sedang tidak dirumah dalam jangka waktu lama, sedangkan rumah yang digunakan oleh cowok, masih ada pemiliknya namun hanya beberapa orang saja. Rumah singgah kami berjarak sekitar 5 rumah. Kendala terbesar saat sampai disana pertama kali adalah masalah sinyal. DISANA TIDAK ADA SINYAL, ALL OPERATOR.
Ketiadaan sinyal bukan menjadi hal baru bagiku dan sie acar, karena sebelumnya kami pernah survey. Tapi, itulah yang menjadi tantangan terbesar kami. Maka dari itu, pada saat membuat rundown, harus bener2 memastikan kepada para partner/ pihak luar  mengenai tanggal, jam dan lokasinya. Karena memang tidak memungkinkan untuk bisa komunikasi setiap waktu. Jadi, bagimana keadaan selama 10 hari tanpa sinyal itu? Hmm, rasanya seperti tersesat di tengah hutan belantara. >_< (Ya, setidaknya itu yang dirasakan di hari hari pertama, tapi selanjutnya sudah tidak lagi). Nanti, akan kuceritakan hikmah dibalik ketiadaan sinyal di desa itu – dan mungkin aka nada ulasan khusus yang bahas masalah ini-
Oke lanjut, 3 hari pertama kita di desa bawah. Setibanya disana, setelah beberpa menit merebah lelah, kita melaksanakan apel pembukaan acara Bina Abdi Desa di balai desa Jipurapah dihadiri oleh perwakilan perangkat desa. Setelah itu kita langsung mengeksekusi acara pertama, yaitu mengaji (TPA) dengan adik2 di musholla. Selain kepada warga desa, kita juga harus mengakrabkan diri dengan anak-anak kecil yang ada disana. Dan, tentu saja lebih mudah untuk dekat dengan anak kecil dari pada orang dewasa.
Agenda kita disana, di pagi hari adalah mengajar di SD dan SMP, malam harinya kita mengaji (TPA) dan bimbel di musholla. Sore hari biasanya kita manfaatkan untuk bersih-bersih desa. Untuk bapak2 dan ibu2, biasanya pada malam hari kita adakan penyuluhan dengan tema yang berbeda-beda. Terdapat acara unik yang kita ikuti saat kita masih di desa bawah –yang sama sekali tidak ada di rundown- yaitu SEDEKAH BUMI. Jadi, sedekah bumi adalah kegiatan tahunan warga yang bertujuan untuk mensyukuri hasil panen yang sudah mereka dapatkan selama ini. FYI, mata pencaharian warga disana adalah petani. Sedekah bumi diadakan di sebuah bukit (?) ditengah sawah, dimana para warga membawa satu meja kecil berisi makanan. Semua warga berkumpul lengkap dengan beberpa meja berisi makanan yang siap untuk di doakan. Setelah di doakan, semua warga menyerbu meja-meja kecil berisi makanan tersebut, berebut. Kami? Jelas tidak perlu berebut, karena warga disana dengan baik hati “menyumbangkan” 4 meja kecil khusus untuk kami, ‘mbak-mas KKN’ kata mereka. Kami membawa pulang makanan tersebut dengan hati yang sangat bahagia. Hahahahahaha…..
3 hari di desa bawah sudah berlalu dengan lancar. Saatnya kita ke desa atas. Yang seru dari perpindahan kedua desa ini adalah ada pada perjalanannya. Apabila di deskripsikan, akan cukup mengerikan. Satu satunya jalan yang bisa dilewati kendaraan lebarnya hanya sekitar 3 meter, full makadaman (bebatuan seperti mau di aspal), masuk ke dalam hutan jati, selama di jalan tidak akan menemukan rumah dan tidak ada lampu, hanya bertemu 1 pos yang biasnaya dijadikan tempat istirahat. Sebagian besar dari kami berjalan kaki, bebapa lainnya naik sepeda motor. Perjalanan teman-teman yang jalan kaki juga sangat mengesankan. Harus menahan panas dan keringnya jalan yang dilalui, dengan medan menanjak dan bebatuan. Mereka adalah orang-orang yang kuat, hahaha.
Kami yang naik sepeda motor, sampai duluan di desa atas. Setelah istirahat sebentar, kami langsung action !.  Hari itu tanggal 16 Agustus. Banyak hal yang harus kami persiapkan untuk upacara 17-an. Tujuan pertama kami adalah mencari pasukan yang akan dijadikan petugas upacara bendera 17 Agustus, yang berasal dari siswa-siswi SDN Jipurapah 2. Kami mendatangi sekolah, bertemu dengan guru yang sebagian besar sudah paham kami dari mana, menjelaskan maksud kedatangan kami, lalu dipersilahkan untuk masuk ke dalam kelas untuk memilih petugas upacara.
Sore harinya, adik-adik yang tadi sudah terpilih kami latih di halaman sekolah. Tak disangka, yang datang bukan hanya petugas yang terpilih, namun hampir semua anak dari kelas 1-6 ikut datang menyaksikan. Mereka sangat antusias. Latihan selesai menjelang magrib. Kami semua pulang.
Hari ini semua berpakaian rapi, bersepatu, dan mengenakan atribut lengkap. Semua yang datang, berbaris rapi, mengikuti upacara bendera dengan khidmad. Adik-adik petugas upacara bertugas dengan baik, bendera dikibarkan dan kami semua hormat, lagu Indonesia Raya terdengar lebih indah dari biasanya.
Hari ini, negeri ini telah berusia 73 tahun. Negeri ini telah melakukan tugasnya dengan maksimal, semua orang di dalamnya berupaya membuat negeri ini menjadi lebih baik. 73 tahun adalah usia yang cukup untuk membuktikan kemampuan kita. Kami masih muda ketika negeri ini sudah tua, sekarang kami akan berusaha menunjukkan bahwa kami mampu membawa negeri ini menjadi lebih baik lagi. Izinkan kami belajar terlebih dahulu. Nanti, ketika ilmu kita sudah cukup, kami berjanji akan memberikan apapun yang kita bisa, untuk negeri ini. Saat ini, yang bisa kita jangkau masih dalam skala desa. Negara ini luas, biarkan kami memulai dari satu desa terlebih dahulu.
 Dirgahayu Indonesiaku.

Lanjut bagian 3…

You Might Also Like

1 komentar

  1. padahal masih di jawa ya bisa gak ada sinyal sama sekali gitu ya. tapi emang itulah kenangannya kkn, gak ada sinyal, susah air, gak ada indomaret, tapi somehow sometimes ketika kita inget lagi rasanya ingin balik lagi hehe.

    BalasHapus

Popular Posts