JINGGA DALAM ELEGI

18.54



Dari sekian banyak novel yang kubaca dari berbagai genre –mulai dari teenlit sampai islami- kali ini aku akan berbagi informasi mengenai beberapa novel teenlit yang bagus –menurutku-.
Okay, dimulai dari novelnya Esti Kinasih, Trilogi Jingga dan Senja. Buku pertama berjudul Jingga dan Senja, dilanjutkan buku kedua Jingga dan Senja. Sebenarnya ada satu lagi, -tapi aku belum punya bukunya, hehe- berjudul Jingga Untuk Matahari.
Keduanya –yang sudah kubaca- adalah novel yang Incredible –setidaknya menurutku-. Tokoh utamanya bernama Ari yang memiliki sodara kembar bernama Ata. Namun, keduanya memiliki sifat yang berbeda. Orang tua mereka berpisah sejak mereka masih kecil. Ari ikut bersama ayahnya, sedangkan Ata ikut ibunya. Kehidupan setelah perceraian yang tidak menyenangkan menjadikan Ari berkelakuan buruk. Dia terkenal dengan julukan Tukang Bikin Onar disekolah.
Tari, cewek kelas X yang menggilai warna jingga terjebak dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan, hingga pada akhirnya dia menjalin hubungan dengan Ari. Dari situlah dia hanyut dalam pusaran kehidupan Ari. Dia melihat seluruh kehidupan orang yang –entah sejak kapan- dia sayangi itu. Kehidupan Ari yang sangat berkebalikan dengan kehidupannya.
Inilah beberapa cuplikan dari Novel Jingga dan Senja :
Hidup itu.. cuma bisa nyanyi satu macem lagu aja. Elegi. Tau elegi itu apa? Lagu sedih. Hidup cuma bisa nyanyi lagu itu aja. Dia nggak bisa nyanyi yang lain untuk kami, Tar. Kadang kami punya cukup kekuatan untuk ndengerin. Kadang nggak. Masalah muncul kalo kami lagi nggak kuat. Nggak ada cara lain kecuali lari. Gue lari sendirian. Ari lari sendirian. Seneng juga sebenernya kalo bisa lari sama-sama. Paling nggak ada tangan yang bisa dipegang. Nggak terasa sendirian. Sayangnya nggak bisa begitu.
-Ata

Kadang ada hal-hal yang pingin banget kita lupain tapi nggak bisa, Tar. Dalam kasus gue, bukan kadang lagi. Ada banyak banget hal yang pingin banget bisa gue lupain. Kadang juga, ada kenyataan-kenyataan yang pingin banget kita ingkarin. Tapi nggak bisa juga. Dalam kasus gue, lagi-lagi ada banyak banget kenyataan yang kalo aja bisa, pingin banget gue ingkarin.
-Ata
Bukan berarti gue selalu mencoba untuk lupa atau selalu mencoba untuk lari. Kalo lagi kecapekan aja. Sayangnya, gue lebih sering kecapekan daripada nggak. Sering gue berharap jadi orang yang apatis. Nggak peduli. Nggak punya emosi. Tapi yang gue punya tinggal hidup gue. Cuma ini. Nggak ada lagi. Nyia-nyiain berarti mati. Jadi, yaaah... gue terpaksa bertahan. Dengan segala cara yang gue tau dan gue bisa.
-Ata
Antara menyesal, namun juga tidak. Antara ingin tetap menjaga rahasia terbesarnya ini, namun juga ingin mengakui. Hanya agar jika dirinya letih sewaktu-waktu, tak perlu lagi berlari mencari tempat sembunyi. Agar teriak keputusasaannya terpahami. Agar rasa frustasinya dimengerti. Itu saja.
-Ari

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts